Merpati Karang: Si Adaptif Penguasa Langit Kota (Columba livia)

Deskripsi Gambar dan Identifikasi Spesies

Gambar yang disajikan menampilkan seekor burung yang diidentifikasi sebagai Merpati Karang (Columba livia), yang juga dikenal luas sebagai Burung Dara atau Merpati Batu, dan di lingkungan perkotaan sering disebut sebagai merpati liar (feral pigeon). Burung ini berdiri di atas permukaan berbatu dan tanah yang lembap, mungkin di tepi sumber air atau pesisir. Penampilannya sangat khas: bulu tubuhnya didominasi warna abu-abu kebiruan. Ciri paling menonjol yang terlihat pada burung dewasa ini adalah warna hijau metalik dan ungu kemerahan yang berkilauan di sekitar leher dan dada (terutama di bagian tengkuk), sebuah fitur yang disebut warna iridesen.

Pada bagian sayapnya yang berwarna abu-abu pucat, terlihat dengan jelas dua garis horizontal tebal berwarna hitam, yang merupakan penanda identifikasi utama untuk spesies liar murni atau yang mendekati jenis liar. Burung dalam foto ini juga mengenakan sebuah cincin atau pita penanda pada salah satu kakinya yang berwarna merah muda keputihan. Kehadiran cincin tersebut menunjukkan bahwa individu ini kemungkinan besar merupakan keturunan dari Merpati Peliharaan (merpati pos, merpati balap, atau merpati hias) yang hidup liar, atau merupakan Merpati Pos yang sedang beristirahat. Penanda tersebut mencerminkan sejarah domestikasi yang panjang dari spesies ini.

Tipe: Apa Makanan Mereka? (Diet Merpati Karang)

Merpati Karang (Columba livia) termasuk dalam famili Columbidae, yang mayoritas anggotanya merupakan burung pemakan tumbuh-tumbuhan. Secara umum, merpati dan dara diklasifikasikan sebagai granivora, yaitu hewan yang makanannya sebagian besar terdiri dari biji-bijian, benih, dan gandum.

Di lingkungan asalnya, yaitu tebing karang dan padang rumput di Afrika Utara, Timur Tengah, dan Eropa Selatan, diet Merpati Karang liar murni sangat bergantung pada biji-bijian alami dan benih dari tanaman lokal. Mereka aktif mencari makan di ladang, memakan biji sereal, biji-bijian liar, dan sesekali mengonsumsi buah-buahan kecil (frugivory) atau bagian tanaman hijau (folivory) untuk melengkapi nutrisi mereka.

Namun, karena mayoritas populasi Merpati Karang yang kini tersebar di seluruh dunia adalah Merpati Liar/Feral yang hidup di kawasan perkotaan, pola makan mereka telah beradaptasi menjadi sangat oportunistik dan generalistis. Makanan utama Merpati Karang di kota besar terdiri dari:

  1. Biji-bijian dan Sereal: Meskipun mereka tetap menyukai biji-bijian alami, di lingkungan urban, mereka seringkali memakan biji-bijian yang diberikan oleh manusia (seperti jagung, beras, atau gandum) atau yang berasal dari sisa pakan ternak atau burung peliharaan.
  2. Sisa Makanan Manusia: Merpati kota adalah pemulung ulung. Mereka mengonsumsi remah-remah roti, kue, popcorn, produk pastry, hingga potongan makanan siap saji yang dibuang atau terjatuh di tempat publik seperti taman, alun-alun, dan stasiun. Adaptasi ini yang memungkinkan populasi mereka meledak di area padat penduduk.
  3. Invertebrata Kecil: Meskipun biji-bijian adalah yang utama, Merpati Karang terkadang juga mengonsumsi serangga kecil, cacing, atau siput kecil, terutama saat membesarkan anak. Sumber protein ini penting untuk pertumbuhan piyik mereka.
  4. Bahan Mineral: Merpati juga membutuhkan kerikil kecil dan butiran pasir yang mereka telan (disebut grit atau empedu batu). Butiran ini disimpan di ampela (gizzard) mereka dan berfungsi membantu menggiling biji-bijian keras yang mereka makan, karena burung tidak memiliki gigi. Tanpa grit yang cukup, mereka kesulitan mencerna biji-bijian.

Habitat, Perilaku, dan Penyebaran

Merpati Karang memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa. Asal-usul mereka adalah tebing-tebing curam dan gua-gua di sepanjang https://www.rmstreeteranimalnutrition.com/ pantai atau di daerah pegunungan. Oleh karena itu, ketika didomestikasi dan kemudian kembali liar (feral), mereka menganggap bangunan-bangunan tinggi di kota (seperti gedung pencakar langit, jembatan, dan ceruk di atap) sebagai pengganti tebing alami mereka. Inilah sebabnya mengapa mereka menjadi simbol kehidupan kota di hampir setiap benua.

Mereka dikenal karena kemampuan terbang yang kuat dan perilaku mencari makan dalam kelompok besar. Dalam hal reproduksi, Merpati Karang bersifat monogami sosial dan biasanya bertelur dua butir dalam sarang yang relatif sederhana, dengan kedua induk bergiliran mengerami telur. Keberhasilan mereka dalam berkembang biak sepanjang tahun, dikombinasikan dengan diet yang fleksibel, telah menjadikan Columba livia salah satu spesies burung yang paling sukses dan paling tersebar luas di dunia. Status konservasinya saat ini adalah Risiko Rendah (Least Concern) menurut IUCN, mencerminkan jumlah populasi yang sangat besar dan penyebaran globalnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *